POWER RANGERS (2017) --- NOT BAD


Sensasi yang berbeda.

Itu yang saya cari ketika menonton film yang diangkat dari kisah nyata, atau dari dongeng. Saya sudah tahu endingnya, tapi rasa penasaran akan pengalaman yang berbeda yang membuat saya tetap ke bioskop. Misalnya saja menonton Beauty and the Beast.

Saya sudah tahu endingnya, Emma Watson sebagai pemeran utama wanita juga tidak terlalu menarik perhatian saya (saya pernah menonton dia di film Colonia dan aktingnya B aja). Kartunnya apalagi, dari TV, VCD, sampai DVD sudah pernah saya tonton. Yang berbeda kali ini adalah kemegahan efek animasi Disney yang ingin saya lihat.

Saya dan Dewi sampai Denpasar Cineplex jam 2 siang. Ketika itu hari jumat, jam kantor saya sampai jam 1, jadi hitungannya saya gak bolos kerja. Selain sama Dewi, Ayu dan Gek Lia mengaku sudah di jalan akan menyusul kami kesana. Tia dan Dian gak jadi ikut. Tia ada acara di rumahnya, sedangkan Dian sakit gigi.


Parkiran Cineplex udah penuh banget. Saya dapet di parkiran dalem, sedangkan Dewi musti muter ke parkiran utara dan di pinggir sekali dari bahu jalan utama. Padahal hari itu bukan hari libur ataupun malam minggu, tapi yang dateng banyak banget.

Saya kira abege-abege Denpasar akan memilih bioskop di Level 21 yang baru buka yang lebih prestise untuk ajang pamer di sosmed. Rupanya dompet mereka ga bisa bohong.

Saking penuhnya, kami kebagian yang jam 7 malem, mundur 4 jam dari jam janjian jam 3 sore. Puas dah saya lihat cabe sampe kering disitu.


Itu pun kami kebagian film Power Rangers! Asli gak enak banget sama Gek Lia dan Ayu. Mereka sudah jauh - jauh dari Bukit Jimbaran, ngebayangin nonton Beauty and the Beast, dapetnya beginian.

Yang pertama datang setelah kami adalah Gek Lia. Dengan wajah lugunya dia mendekati meja kami. Baru duduk sebentar saya langsung minta maaf ke dia soal film yang akan kami tonton. "Power Rangers itu apa?" itu respon pertamanya.

-_________________________-"

"Serius kamu gak tahu?"

"Tahu kayanya, pas saya TK"

Saya makin merasa bersalah.

Kemudian datanglah Ayu dengan gaya khasnya, terburu - buru, keringetan, dan terengah - engah. Kayanya hidupnya dia gak ada selonya. Saya ke meja sebelah berniat meminta kursi yang tidak ada pemiliknya dan saya kasi ke Ayu. Tapi kata si anak yang jaga, kursinya udah ada orangnya.

Karena gak nemo tempat duduk lagi, dan ibu dari anak tadi udah dateng dan ternyata kursinya masih kosong satu, sekarang gantian Ayu yang minjem, dan si anak ngasi. Buset dah si anak kecil - kecil udah playboy.

Setelah Ayu duduk dengan tenang, saya ajukan permintaan maaf lagi. Kali ini reaksinya Ayuk lebih kalem. Cuma ketawa aja. Ketawa terkejut.

Sampe dalem bioskop perasaan bersalah masih menghantui saya. Makin kepikiran. Tapi saya coba bersikap bodo amat agar tetap bisa menikmati filmnya. Sejujurnya ini adalah film yang saya tunggu - tunggu tahun ini. Daripada Beauty and the Beast, saya prefer nonton Power Rangers. Saya sekuat tenaga menutupi antusias saya, biar gak kelihatan sengaja milih film ini.

Nonton film ini membuat sebahagia apapun masa kecil saya, rasanya masa kecil saya kurang bahagia dan baru terpuaskan di detik itu juga. Pihak pembuat film mencoba sekuat tenaga membuat film ini berbeda dengan serialnya, walau jatuhnya kostum power rangers tampak jadi monster, Alpha juga jadi aneh dengan bola mata yang keluar (padahal dia setengah robot, biarin aja kaya alpha yang dulu), serta Megazord yang kurang megah dan wah.

Kesan senang tapi kecewa ini mirip seperti menonton Dragonball Evolution dan The Last Airbender. Karena animasi atau serialnya sudah penuh action, ekpektasi penonton keduluan tinggi.

Seperti isu yang sudah beredar, yang mengagetkan adalah diangkatnya hubungan sesama jenis dalam film ini. Ranger Kuning punya orientasi lesbian.

Beberapa joke coba diangkat, tapi saya gak begitu nangkep. Mungkin hanya beberapa, salah satunya ketika Zack mengaku (ranger) Black dan disanggah secara polos oleh Billy yang seorang kulit hitam.

Megazord dibuat serealistis mungkin (masing - masing ranger berada di masing - masing tangan, kaki, dan dada Megazord, bukan ngumpul di tengah). Cara jalannya pun gak langsung mulus. Megazord isi acara terjatuh karena kedua kaki melangkah bersamaan. Ini lucu, tapi bener juga.

Sayangnya baik megazord maupun kostum Power Rangers masih kalah sama kostum superhero yang ada robotnya kaya Iron Man, Transformer, bahkan Pasific Rim.


Dan adegan bertarungnya terlalu sedikit, malah lebih menekankan ke 'pesan moral' yang ingin disampaikan dan ditunjukan. Ew


1 bukan komentar (biasa):

RUMAH INDONESIA said...

Satu Langkah Menuju Akhir Dunia
https://rumahindonesia178.blogspot.co.id


https://www.dropbox.com/s/9x25jlff0h2s955/Buku%20A4%20Pengantar%20Hukum%20Indonesia.pdf?dl=0

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI